Hendri Kampai: Merdeka Belajar, Belajar Merdeka!

Hendri Kampai: Merdeka Belajar, Belajar Merdeka!
Merdeka Belajar Melalui Online Learning

JAKARTA - Sudah hampir dua tahun, pandemi Covid-19 melanda dunia, menghantam semua sendi-sendi kehidupan, tidak terkecuali dunia pendidikan.

Penyebaran Covid-19 yang begitu cepat telah memaksa semua pihak untuk berubah ke kebiasaan baru, atau lebih dikenal dengan New Normal.

Jaga jarak atau social distancing yang dulu sangat tidak dianjurkan, saat ini sudah menjadi hal wajib untuk dilakukan karena tidak satu orang pun yang bisa memastikan bahwa dia benar-benar bebas dari Covid-19.

Tempat-tempat publik dengan adanya Covid-19 sontak sepi dan dipaksa sepi, termasuk sekolah, dan kampus di seantero negeri. Para siswa dan mahasiswa tidak bisa ke sekolah dan ke kampus lagi. Semua sudah berubah jadi online dengan pembelajaran jarak jauh. Interaksi antara guru dan siswa, antara dosen dan mahasiswa hanya sebatas layar komputer yang difasilitasi oleh teknologi teleconference, seperti zoom dan google meet.

Gedung-gedung sekolah dan kampus sudah berubah bak kuburan dan cemetery, banyak ruangan dan kursi-kursi tanpa aktifitas belajar mengajar, benar-benar merdeka atau bebas dari aktifitas pendidikan dan pembelajaran.

Saat ini belajar tidak tergantung lagi pada fasilitas gedung dan fasilitas fisik lainnya, semua sudah berubah menjadi dunia virtual, dunia maya, dunia antara ada dan tiada. Guru dan dosen saat ini hanya sebagai alternatif sumber belajar. Keahlian guru dan dosen sudah digantikan oleh sumber belajar dari dunia internet, semua tersedia secara online, para siswa dan mahasiswa bebas dan merdeka belajar dari sumber manapun yang ada di internet baik dari sumber dalam negeri maupun dari sumber luar negeri.

Globalisasi sudah terjadi hampir 100%, semua menunggu waktu, menunggu infrastruktur telekomunikasi yang mendukung transmisi multimedia tersedia sampai ke pelosok desa.

Dunia sudah berubah, kita sudah menjadi warga negara dunia, global citizen. Kualitas pendidikan sudah diukur dengan standar internasional, dengan standar yang dipakai oleh semua orang dari negara manapun. Tidak ada lagi ukuran lokal atau akreditasi lokal atau nasional.

Akreditasi lembaga pendidikan tidak lagi menjadi jaminan kualitas lulusan sekolah dan perguruan tinggi. Kualitasnya sangat tergantung pada kualitas individu siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. Fasilitas dan infrastruktur kampus saat ini sudah bukan jaminan lagi sebagai faktor pendukung kulitas belajar dan mengajar, tapi sangat tergantung pada kulitas pribadi dari masing-masing civitas akademika. Di sini komitmen, dan konsistensi masing-masing individu sangat menentukan output dari pendidikan itu sendiri.

Pelajar yang tahu diri akan termotivasi belajar mandiri, mencari pengetahuan, dan keahlian yang dia butuhkan untuk hidup dan bertahan hidup. Belajar tidak lagi karena keterpaksaan penugasan guru atau dosen, tapi lebih kepada tuntutan pekerjaan.

Belajar merdeka bukan berarti bebas dari tuntutan, tapi sudah berubah kepada hasil yang diinginkan oleh para stakeholders pengguna lulusan. Para pelajar merdeka untuk mempelajari apa saja tanpa dibatasi oleh kurikulum, tapi dituntut oleh keinginan untuk menjadi manusia merdeka, yang bebas dari ketidaktahuan dan kekurangan keahlian yang dibutuhkan dunia usaha dan industri, serta bidang lainnya yang menginginkan pengetahuan dan keahlian yang mumpuni.

Tidak adanya jadwal belajar tatap muka bukan berarti para pelajar berubah jadi generasi rebahan, yang hanya tiduran sambil ditemani gadget berupa Smart Phone yang penuh dengan game-game yang penuh godaan dan tantangan, tapi bagaimana mengubah waktu dan smartphone yang dimiliki menjadi potensi untuk digunakan sebagai sarana dan sumber belajar.

Para guru dan para dosen juga harus berevolusi, bukan sekedar berubah dari tatap muka ke mengajar online, tapi juga terus memperkaya pengetahuan dan keahlian dari sumber belajar online, dimana selanjutnya ditularkan kepada para anak didiknya.

Keahlian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah merupakan keharusan, syarat mutlak untuk bisa mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi baik sebagai pelajar maupun sebagai pengajar.

Tidak ada alasan lagi "saya masih muda, atau saya sudah tua". Mau sukses belajar, dan mengajar, para civitas akademika harus punya keahlian menggunakan teknologi yang menunjang pembelajaran jarak jauh atau online, baik itu keahlian menggunakan komputer, aplikasi komputer, disain grafis, dan edit audio video adalah sangat dibutuhkan saat ini.

Tidak bisa menggunakan teknologi akan dikalahkan oleh teknologi, digantikan oleh generasi baru yang sudah terbiasa dengan lingkungan berbasis teknologi bertahan hidup, mulai dari memesan makanan sampai dengan belanja online tanpa ada rasa ragu walaupun pernah tertipu sekalipun, mereka sudah beradaptasi dengan teknologi. Bagaimana dengan kita generasi penghapal? Sudahkan kita siap menggunakan teknologi tanpa perlu menghapal lagi tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup dan kehidupan dewasa ini?

Hendri
Praktisi dan Pengamat Pendidikan 
Konsultan IT dan Media

Hendri
OPINI PUBLIK

OPINI PUBLIK

Previous Article

Tony Rosyid: Jokowi Dukung Anies, Keterbelahan...

Next Article

Tony Rosyid: Raja, Kapan Engkau Sembuh?

Related Posts

Peringkat

Profle

Aa Ruslan Sutisna

Agung Libas

Agung Libas

Postingan Bulan ini: 5

Postingan Tahun ini: 9

Registered: May 12, 2021

Nanang suryana saputra

Nanang suryana saputra

Postingan Bulan ini: 4

Postingan Tahun ini: 4

Registered: Apr 28, 2021

Opini Papua

Opini Papua

Postingan Bulan ini: 3

Postingan Tahun ini: 8

Registered: Jul 11, 2021

Narsono SoN

Narsono SoN

Postingan Bulan ini: 1

Postingan Tahun ini: 12

Registered: Apr 27, 2021

Profle

Opini Papua

PON XX  di Tengah Pengungsian
Kisah Menarik, Label Puyuh Jantan Melekat Untuk Bapak Yang Mengasuh Anak
Wartawan Profesi Mulia Bukan Pembawa Petaka
Surat Cinta Untuk Olvah Alhamid

Follow Us

Recommended Posts

Kopi Gunung Karamat Produk Unggulan Desa Gunung Karamat 
Warga Masyarakat Desa Gandasoli Antusias Divaksin Covid-19
Worksop ODF Kementrian Kesehatan, Wabup Sukabumi: di Sukabumi Sudah Ada Satgas ODF Gesit Sabumi
Opening Speaker Seminar Pendidikan, Bupati Sukabumi "Guru Tumpuan Harapan Bangsa"
Surat Cinta Untuk Olvah Alhamid